Who Knows Me The Best

July 29th, 2008 by lista

Leaderboard
Create your own Friend Test here

Apa kita benar2 bisa memilih???

October 6th, 2006 by lista

Banyak orang - yang mengaku dirinya - bijak mendoktrinkan bahwa manusia bebas memilih apapun yang dia ingini, jalan manapun yang ingin ditempuhnya, dan tindakan apapun yang ingin dilakukannya. karena itu manusia harus mengendalikan keadaan, bukannya dikendalikan keadaan. kedengarannya ide ini cukup bijak. tapi apakah cukup filosofis untuk dikatakan bijak??

bagaimana kalau pola pikirnya saya balik. manusia tidak bebas memilih. ketika seseorang lapar, akan lebih mudah bagi kita untuk nemahami bahwa orang tersebut bebas memilih untuk makan atau tidak. padahal sebenarnya tidak sesederhana itu. ketika orang itu memilih untuk makan, ada kondisi yang jelas yang memaksanya untuk memilih pilihan tersebut yaitu "merasa lapar". bagaimana bila ia memilih untuk tidak makan? bukankah kondisi "merasa lapar" tadi tidak mengendalikan orang tersebut? bukankah orang tersebut bebas memilih? sayang sekali, jawabannya TIDAK. pasti ada suatu kondisi lainnya selain "merasa lapar" dimana orang tersebut "TERPAKSA" memilih untuk tidak makan, misalnya dia sedang berpuasa, atau dia sedang sibuk, atau banyak kondisi lainnya. lalu, siapa yang mengendalikan siapa? apakah manusia mengendalikan keadaan atau keadaan mengendalikan manusia?

banyak contoh yang muncul untuk menjawab pertanyaan tersebut, misalnya seorang pemimpin rapat, tentu saja ia mengendalikan rapat sesuai agenda. berarti manusia mengendalikan keadaan. tapi, apakah benar segampang itu? si pemimpin rapat ini pasti berada di suatu keadaan sehingga dia harus mengarahkan rapat sesuai agenda. keadaan yang mengendalikannya bisa jadi dua jenis, dan kedua jenis tersebut saya klasifikasikan sebagai berikut:

  1. keadaan yang terjadi sebelum pilihan, contohnya pemimpin rapat terikat oleh keadaannya yang harus menjalankan fungsinya sebagai pemimpin rapat, jadi harus mengarahkan rapat sesuai dengan agenda.
  2. keadaan yang mungkin terjadi setelah pilihan, contohnya bila tidakdiarahkan sesuai agenda maka rapat akan memakan waktu yang lama.

dari klasifikasi dan contoh yang saya beri di atas, terlihat jelas bahwa kebebasan manusia dalam memilih hanyalah "fatamorgana alam konsep".

mari kita lihat dari sudut pandang lainnya. yang mana yang lebih dulu ada, manusia atau keadaan? jelas, keadaan dulu yang ada. secara teologis, manusia diciptakan paling terakhir dibanding ciptaan lainnya, berarti manusia ada setelah ada keadaan. kalau anda seorang atheis, baiklah saya lakukan pendekatan lain, melalui sains. dalam sains populer manusia adalah hasil evolusi, hal ini juga berarti bahwa manusia ada setelah ada keadaan sebelumnya. hal ini tentu saja membuat apa yang dilakukan manusia didasari oleh keadaan, bukan?

Anda tidak perlu harus bersepakat dengan saya dalam hal ini, karena ketika ada dua orang beradu pendapat dan akhirnya saling sepakat berarti satu dari mereka kurang cerdas dibanding yang lainnya. selamat berpikir

L(a

September 18th, 2006 by lista

L(a

le

af

fa

ll

s)

one

li

ne

ss

Lebih dari sekedar hukum hari sabat

June 7th, 2006 by lista

Masih ingatkah Anda dengan salah satu gebrakan yang dibuat Kristus yang berhubungan dengan aturan? Mungkin yang ini masih kalah heboh dibandingkan dengan kejadian di pelataran bait Allah, dimana meja-meja dagang diporak-porandakan oleh Kristus. Bahkan mungkin sedikit orang yang menaruh perhatian pada kejadian ini. Akan tetapi, makna yang terkandung dalam kejadian ini sangat mendalam, lebih dari sekedar Taurat Allah.

Dicatat dalam Matius pasal 12 bahwa murid-murid Kristus memetik bulir-bulir gandum dan memakannya karena lapar. Dan parahnya, hal ini mereka lakukan pada hari sabat. Demi perutnya sendiri, mereka melanggar aturan. Sungguh egois. Apakah orang-orang seperti  itu layak untuk disebut murid Kristus?Betapa gampangnya murid-murid Kristus melanggar aturan demi kepentingan pribadi. Aturan, hukum, dibuat untuk mengatur agar tidak kacau atau melampaui batasan-batasan. Karena itulah, aturan tetap perlu ditegakkan agar kesalahan yang sama tidak berulang-ulang terjadi. Tapi, bagaimana tanggapan Kristus terhadap pelanggaran ini?


12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?
12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?
12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

12:11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?
12:12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat."

Ternyata ada sesuatu yang lebih dari sekedar hari sabat. Kristus sendiri berkata bahwa yang Ia inginkan ialah belas kasihan.

Manusia tidak dapat di “GENERALISASI”

June 2nd, 2006 by lista

Pernah dipaksa hadir ke suatu acara dengan alasan "orang lain bisa, kenapa Anda tidak"? Atau pernah menuntut orang lain untuk menghargai sesuatu dengan alasan "Orang seperti dia harusnya mengerti" atau "Saya saja bisa memahami, koq dia tidak?" Atau pernahkah Anda dideskribsikan seseorang sebagai "kolerik" atau "plegmatis"? Tanpa Anda sadari, Anda pasti pernah menjadi korban generalisasi, demikian pula Anda sudah menjadi pelaku generalisasi tersebut berulang-ulang tanpa Anda rencanakan.

Apakah ini disebut "penyakit psikologi" atau justru "senjata ampuh" untuk meng"gol"kan opini kita? Saya sendiri tidak mengerti. Bagi saya, yang jelas kita tidak berhak meng"GENERALISASI" mahluk yang sangat detil, spesifik, dan kompleks seperti manusia.

Setiap orang memiliki opini masing-masing, tingkat kesibukan masing-masing, pengalaman masing-masing, faktor-faktor internal dan eksternal masing-masing yang kemudian merujuk pada tindakan dan sikap masing-masing. Memang tak bisa kita pungkiri bahwa pada tatanan praktisnya kita dapat temui keadaan dimana sekelompok orang percaya pada hal yang sama, memakan makanan yang sama, berbicara dengan bahasa yang sama, bahkan opini masing-masing yang sama. Disinilah "hukum rimba"nya manusia berlaku. Yang kuat adalah pemenangnya. Kelompok mana yang jumlah kuantitatif, ataupun kualitasnya di atas kelompok lain akan menjadi pemenangnya.

Ambil kata di kelas ada 20 orang. 18 orang bersedia mengerjakan tugas dalam waktu 1 malam, sedangkan 2 orang tidak bersedia. Di dalam kondisi inilah sering terjadi "GENERALISASI" dengan alasan "18 orang bisa, 2 lainnya harusnya bisa". Padahal, manusia tidak sesimpel itu. Ita perlu ingat kembali bahwa manusia adalah ciptaan yang sangat detil, spesifik dan kompleks.

Bagi saya, peng"GENERALISASI"an adalah salah satu contoh proses DEHUMANISASI. Contoh mudahnya, ketika Anda dinyatakan sebagai "orang melankolis", Anda hanya dideskripsikan dengan satu kata yang sebenarnya amat sangat sempit untuk menggambarkan diri Anda sesungguhnya. Seorang manusia kehilangan cirinya yang berbeda dari manusia lainnya, sehingga manusia kehilangan keistimewaannya. Ya, tidak lebih dari seorang "melankolis"

Apakah GENERALISASI adalah "penyakit psikologis" atau "senjata ampuh"? Hanya Anda sebagai penggunanya yang dapat menjawabnya.